1. Budaya dan adat istiadat
Kebudayaan dan adat istiadat Suku Jawa di Jawa Timur bagian barat menerima banyak
pengaruh dari Jawa Tengahan, sehingga kawasan ini dikenal sebagai Mataraman;
menunjukkan bahwa kawasan tersebut dulunya merupakan daerah kekuasaan Kesultanan
Mataram. Daerah tersebut meliputi eks-Karesidenan Madiun (Madiun, Ngawi, Magetan,
Ponorogo, Pacitan), eks-Karesidenan Kediri (Kediri, Tulungagung, Blitar, Trenggalek,
Nganjuk) dan sebagian Bojonegoro. Seperti halnya di Jawa Tengah, wayang kulit dan
ketoprak cukup populer di kawasan ini.
Kawasan pesisir barat Jawa Timur banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Islam. Kawasan ini
mencakup wilayah Tuban, Lamongan, dan Gresik. Dahulu pesisir utara Jawa Timur
merupakan daerah masuknya dan pusat perkembangan agama Islam. Lima dari sembilan
anggota walisongo dimakamkan di kawasan ini.
Di kawasan eks-Karesidenan Surabaya (termasuk Sidoarjo, Mojokerto, dan Jombang) dan
Malang, memiliki sedikit pengaruh budaya Mataraman, mengingat kawasan ini cukup jauh
dari pusat kebudayaan Jawa: Surakarta dan Yogyakarta.
Adat istiadat di kawasan Tapal Kuda banyak dipengaruhi oleh budaya Madura, mengingat
besarnya populasi Suku Madura di kawasan ini. Adat istiadat masyarakat Osing merupakan
perpaduan budaya Jawa, Madura, dan Bali. Sementara adat istiadat Suku Tengger banyak
dipengaruhi oleh budaya Hindu.
Masyarakat desa di Jawa Timur, seperti halnya di Jawa Tengah, memiliki ikatan yang
berdasarkan persahabatan dan teritorial. Berbagai upacara adat yang diselenggarakan antara
lain: tingkepan (upacara usia kehamilan tujuh bulan bagi anak pertama), babaran (upacara
menjelang lahirnya bayi), sepasaran (upacara setelah bayi berusia lima hari), pitonan
(upacara setelah bayi berusia tujuh bulan), sunatan, pacangan.
Penduduk Jawa Timur umumnya menganut perkawinan monogami. Sebelum dilakukan
lamaran, pihak laki-laki melakukan acara nako'ake (menanyakan apakah si gadis sudah
memiliki calon suami), setelah itu dilakukan peningsetan (lamaran). Upacara perkawinan
didahului dengan acara temu atau kepanggih. Masyarakat di pesisir barat: Tuban, Lamongan,
Gresik, bahkan Bojonegoro memiliki kebiasaan lumrah keluarga wanita melamar pria,
berbeda dengan lazimnya kebiasaan daerah lain di Indonesia, dimana pihak pria melamar
wanita. Dan umumnya pria selanjutnya akan masuk ke dalam keluarga wanita.
2. unsur – unsur kebudayaan Jawa Timur
Kepercayaan : Mayoritas
suku Jawa umumnya menganut agama Islam, sebagian kecil lainnya menganut
agama kristen dan katolik, dan ada pula yang menganut hindu dan Buddha.
Sebagian orang Jawa juga masih memegang teguh kepercayaan Kejawen. Agama
Islam sangatlah kuat dalam memberi pengaruh pada Suku Madura. Suku
Osing umumnya beragama Islam dan Hindu.
perlengkapan hidup : Sebagai suatu
kebudayaan, suku Jawa tentu memiliki peralatan dan perlengkapan hidup
yang khas diantaranya yang paling menonjol adalah dalam segi bangunan.
Masyarakat yang bertempat tinggal di daerah Jawa memiliki ciri sendiri
dalam bangunan mereka, khususnya rumah tinggal. Ada beberapa jenis
rumah yang dikenal oleh masyarakat suku Jawa, diantaranya adalah rumah
limasan, rumah joglo, dan rumah serotong.
Umumnya rumah di daerah Jawa
menggunakan bahan batang bambu, glugu (batang pohon nyiur), dan kayu
jati sebagai kerangka atau pondasi rumah. Sedangkan untuk dindingnya,
umum digunakan gedek atau anyaman dari bilik bambu, walaupun sekarang,
seiring dengan perkembangan zaman, banyak juga yang telah menggunakan
dinding dari tembok. Atap pada umumnya terbuat dari anyaman kelapa
kering (blarak) dan banyak juga yang menggunakan genting.
mata pencaharian : Tidak ada
mata pencaharian yang khas yang dilakoni oleh masyarakat suku Jawa. pada
umumnya, orang-orang disana bekerja pada segala bidang, terutama
administrasi negara dan kemiliteran yang memang didominasi oleh orang
Jawa. selain itu, mereka bekerja pada sektor pelayanan umum,
pertukangan, perdagangan dan pertanian dan perkebunan. Sektor pertanian
dan perkebunan, mungkin salah satu yang paling menonjol dibandingkan
mata pencaharian lain, karena seperti yang kita tahu, baik Jawa Tengah
dan Jawa Timur banyak lahan-lahan pertanian yang beberapa cukup dikenal,
karena memegang peranan besar dalam memasok kebutuhan nasional, seperti
padi, tebu, dan kapas.
Tetapi orang Jawa juga terkenal tidak
memiliki bakat yang menonjol dalam bidang industri dan bisnis seperti
halnya keturunan etnis tionghoa. Hal ini dapat terlihat, bahwa pemilik
industri berskala besar di Indonesia, kebanyakan dimiliki dan dikelola
oleh etnis tionghoa.
pengetahuan : Salah
satu bentuk sistem pengetahuan yanga ada, berkembang, dan masih ada
hingga saat ini, adalah bentuk penanggalan atau kalender. Bentuk
kalender Jawa menurut kelompok kami, adalah salah satu bentuk
pengetahuan yang maju dan unik yang berhasil diciptakan oleh para
masyarakat Jawa kuno
Pada sistem kalender Jawa, terdapat
dua siklus hari yaitu siklus 7 hari seperti yang kita kenal saat ini,
dan sistem panacawara yang mengenal 5 hari pasaran. Sejarah penggunaan
kalender Jawa baru ini, dimulai pada tahun 1625, dimana pada saat itu,
sultan agung, raja kerajaan mataram, yang sedang berusaha menytebarkan
agama islam di pulau Jawa, mengeluarkan dekrit agar wilayah kekuasaanya
menggunakan sistem kalender hijriah, namun angka tahun hijriah tidak
digunakan demi asas kesinambungan. Sehingga pada saat itu adalah tahun
1025 hijriah, namun tetap menggunakan tahun saka, yaitu tahun 1547.
Dalam sistem kalender Jawa pun,
terdapat dua versi nama-nama bulan, yaitu nama bulan dalam kalender Jawa
matahari, dan kalender Jawa bulan. Nama- nama bulan dalam sistem
kalender Jawa komariah (bulan) diantaranya adalah suro, sapar, mulud,
bakdamulud, jumadilawal, jumadil akhir, rejeb, ruwah, poso, sawal, sela,
dan dulkijah. Namun, pada tahun 1855 M, karena sistem penanggalan
komariah dianggap tidak cocok dijadikan patokan petani dalam menentukan
masa bercocok tanam, maka Sri Paduka Mangkunegaran IV mengesahkan sistem
kalender berdasarkan sistem matahari. Dalam kalender matahari pun
terdapat dua belas bulan .
kekerabatan : Sistem
kekerabatan masyarakat Jawa berdasarkan prinsip keturunanbilateral.
Semua kakak laki-laki atau wanita ayah dan ibu beserta istriatupun suami
masing – masing diklasifikasikan menjadi satu denganistilah siwa atau
uwa. Adapun adik dari ayah dan ibu diklasifikasikan kedalam dua golongan
yang dibedakan menurut jenis kelamin menjadipaman dan bibi.Dalam adat
masyarakat Jawa dikenal adanya ngarang wulu serta wayuh. Perkawinan
ngarang wulu
adalah suatu perkawinan seorang
dudadengan seorang wanita salah satu adik dari almarhum istrinya.
Jadimerupakan pernikahan sororat. Adapun wayuh
adalah suatu perkawinanlebih dari satu istri (poligami).
kesenian : reog , kuda
lumping, ludruk, tari remo , parikan Tari Bedhaya ,Tari Srimpi Tari
Pethilan, Tari Golek,Tari Bondan,Tari Topeng, Tari DolalakPatolan atau
prisenanbarongan, kuda kepang, dan wayang krucil,Kuntulan, Lengger
calung
bahasa : Bahasa
Jawa, sebagai bahasa ibu dan bahasa pergaulan sehari-hari masyarakat
suku Jawa ,. Dan bahasa Indonesia
· Ha – Hana Hurip Wening Suci – adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci.
· Na - Nur Gaib, Candra Gaib, Warsitaning Gaib – pengharapan manusia hanya selalu ke sinar Ilahi.
· Ca – Cipta Wening, Cipta Mandulu, Cipta Dadi – arah dan tujuan pada yang Maha Tunggal.
· Ra – Rasaingsun Handulusih – rasa cinta sejati muncul dari rasa kasih nurani.
· Ka – Kersaningsun Memayu Hayuning Bawana – hasrat diarahkan untuk kesejahtraan alam.
· Dha – Dumadining Dzat kang tanpa winangenan – menerima hidup apa adanya.
· Ta – Tatas, Titis, Tutus, Titi lan Wibawa – mendasar, totalitas, satu visi, ketelitian dalam memandang hidup.
· Sa – Sifat Ingsun Handulu Sifatullah – membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan.
· Wa – Wujud Hana Tan Kena Kinira – ilmu manusia hanya terbatas, namun implikasinya bisa tanpa batas.
· La – Lir Handaya Paseban Jati – mengalirkan hidup sebatas pada tuntunan Ilahi.
· Pa – Papan Kang Tanpa Kiblat – Hakikat Allah yang ada di segala arah.
· Da – Dhuwur Wekasane Endek Wiwitane – Untuk bisa diaatas tentu dimulai dari dasar.
· Ja – Jumbuhing Kawula Lan Gusti – selalu berusaha menyatu, memahami kehendaknya.
· Ya – Yakin Marang Samubarang Tumindak Kang Dumadi – yakin atas titah atau kodrat Ilahi.
· Nya – Nyata Tanpa Mata, Ngerti Tanpa Diuruki – memahami kodrat kehidupan
· Ma – Madep, Mantep, Manembah, Mring Ilahi – yakin atau mantap dalam menyembah Ilahi.
· Ga – Guru Sejati Sing Mruki – belajar dari guru nurani.
· Ba - Bayu Sejati Kang Andalani - menyelaraskan diri pada gerak alam.
· Tha – Tukul Saka Niat – sesuatu harus tumbuh dan dimulai dari niatan.
· Nga – Ngracut Busananing Manungso – melepaskan egoisme pribadi.
3. Nilai – Nilai kebudayaan.
MADURA (Jawa Timur)
Nilai-nilai Budaya
Ekonomi : Budaya merantau ke wilayah
luar Madura untuk mencari kehidupan yang lebih baik imigrasi dalam
nasional maupun sampai ke luar negeri.
Sosial : Carok adalah cara untuk
menyelesaikan masalah antara orang yang satu dengan orang yang lain
dengan syarat masalah tersebutmenyangkut harga diri seseorang yakni
perempuan dan harta atau tahta,yang dilakukan dengan cara saling bunuh.
Ini menunjukkan orang Madura sangat menjunjung tinggi nilai harga diri.
Kesenian : Kerapan sapi adalah salah
satu kesenian orang Madura yang sekarang tujuannya tidak lagi sebagai
upacara rasa syukur melainkan untuk lomba, tetapi kerapan sapi tetap
menjadi wadah dalam perkumpulan orang-orang Madura. Dari kemenangan
lomba itu sendiri menimbulkan kepuasan dan untuk mengangkat derajat di
mata masyarakat lingkungannya.
Religi : Orang Madura mayoritas
beragama islam, dan sangat menjunjungtinggi nilai ketaatan dalam
beragama. Buktinya ajaran orang tua terhadap anaknya, sejak dini sudah
diajari beragama yang baik menurut orang Madura. Disana juga terdapat
slametan yang diadakan setiap hari senin malam dan kamis malam dengan
melakukan kegiatan pengajian dan jugamenjadi wadah dimana orang Madura
berkumpul dan mengikat tali silahturahmi.
http://liferomance-aryo.blogspot.co.id/2012/02/nilai-budaya-15-suku-bangsa-di.html
4. Susunan Acara Upacara Pernikahan Adat Jawa
Pernikahan atau sering pula disebut
dengan perkawinan merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah
kehidupan setiap orang. Masyarakat Jawa memiliki sebuah adat atau cara
tersendiri dalam melaksanakan upacara sakral tersebut,Upacara Pernikahan
Adat Jawa. Upacara Pernikahan Adat Jawa dimulai dari tahap perkenalan
sampai terjadinya pernikahan atau akad Nikah.
Tahapan-tahapan Upacara Pernikahan
Adat Jawa tersebut memiliki simbol – simbol dalam setiap sessionnya,
atau biasa kita sebut sebagai makna yang terkandung dalam tiap tahapan
Upacara Pernikahan Adat Jawa. Adapun
Upacara Pernikahan Adat Jawa
Tahapan – tahapan dalam Upacara Pernikahan Adat Jawa adalah sebagai berikut.
Nontoni
Pada tahap ini sangat dibutuhkan
peranan seorang perantara. Perantara ini merupakan utusan dari keluarga
calon pengantin pria untuk menemui keluarga calon pengantin wanita.
Pertemuan ini dimaksudkan untuk nontoni, atau melihat calon dari dekat.
Biasanya, utusan datang ke rumah keluarga calon pengantin wanita bersama
calon pengantin pria. Di rumah itu, para calon mempelai bisa bertemu
langsung meskipun hanya sekilas. Pertemuan sekilas ini terjadi ketika
calon pengantin wanita mengeluarkan minuman dan makanan ringan sebagai
jamuan. Tamu disambut oleh keluarga calon pengantin wanita yang terdiri
dari orangtua calon pengantin wanita dan keluarganya, biasanya pakdhe
atau paklik.
Nakokake/Nembung/Nglamar
Sebelum melangkah ke tahap
selanjutnya, perantara akan menanyakan beberapa hal pribadi seperti
sudah adakah calon bagi calon mempelai wanita. Bila belum ada calon,
maka utusan dari calon pengantin pria memberitahukan bahwa keluarga
calon pengantin pria berkeinginan untuk berbesanan. Lalu calon
pengantin wanita diajak bertemu dengan calon pengantin pria untuk
ditanya kesediaannya menjadi istrinya. Bila calon pengantin wanita
setuju, maka perlu dilakukan langkah-langkah selanjutnya. Langkah
selanjutnya tersebut adalah ditentukannya hari H kedatangan utusan untuk
melakukan kekancingan rembag (peningset).
Peningset ini merupakan suatu simbol
bahwa calon pengantin wanita sudah diikat secara tidak resmi oleh calon
pengantin pria. Peningset biasanya berupa kalpika (cincin), sejumlah
uang, dan oleh-oleh berupa makanan khas daerah. Peningset ini bisa
dibarengi dengan acara pasok tukon, yaitu pemberian barang-barang berupa
pisang sanggan (pisang jenis raja setangkep), seperangkat busana bagi
calon pengantin wanita, dan upakarti atau bantuan bila upacara
pernikahan akan segera dilangsungkan seperti beras, gula, sayur-mayur,
bumbon, dan sejumlah uang.
Ketika semua sudah berjalan dengan
lancar, maka ditentukanlah tanggal dan hari pernikahan. Biasanya
penentuan tanggal dan hari pernikahan disesuaikan dengan weton (hari
lahir berdasarkan perhitungan Jawa) kedua calon pengantin. Hal ini
dimaksudkan agar pernikahan itu kelak mendatangkan kebahagiaan dan
kesejahteraan bagi seluruh anggota keluarga.
Pasang Tarub
Bila tanggal dan hari pernikahan
sudah disetujui, maka dilakukan langkah selanjutnya yaitu pemasangan
tarub menjelang hari pernikahan. Tarub dibuat dari daun kelapa yang
sebelumnya telah dianyam dan diberi kerangka dari bambu, dan ijuk atau
welat sebagai talinya. Agar pemasangan tarub ini selamat, dilakukan
upacara sederhana berupa penyajian nasi tumpeng lengkap. Bersamaan
dengan pemasangan tarub, dipasang juga tuwuhan. Yang dimaksud dengan
tuwuhan adalah sepasang pohon pisang raja yang sedang berbuah, yang
dipasang di kanan kiri pintu masuk. Pohon pisang melambangkan keagungan
dan mengandung makna berupa harapan agar keluarga baru ini nantinya
cukup harta dan keturunan. Biasanya di kanan kiri pintu masuk juga
diberi daun kelor yang bermaksud untuk mengusir segala pengaruh jahat
yang akan memasuki tempat upacara, begitu pula janur yang merupakan
simbol keagungan.
Midodareni
Rangkaian upacara midodareni diawali
dengan upacara siraman. Upacara siraman dilakukan sebelum acara
midodareni. Tempat untuk siraman dibuat sedemikian rupa sehingga nampak
seperti sendang yang dikelilingi oleh tanaman beraneka warna. Pelaku
siraman adalah orang yang dituakan yang berjumlah tujuh diawali dari
orangtua yang kemudian dilanjutkan oleh sesepuh lainnya. Setelah
siraman, calon pengantin membasuh wajah (istilah Jawa: raup) dengan air
kendi yang dibawa oleh ibunya, kemudian kendi langsung dibanting/dipecah
sambil mengucapkan kata-kata: “cahayanya sekarang sudah pecah seperti
bulan purnama”. Setelah itu, calon penganten langsung dibopong oleh
ayahnya ke tempat ganti pakaian.
Setelah berganti busana, dilanjutkan
dengan acara potong rambut yang dilakukan oleh orangtua pengantin
wanita. Setelah dipotong, rambut dikubur di depan rumah. Setelah rambut
dikubur, dilanjutkan dengan acara “dodol dawet”. Yang berjualan dawet
adalah ibu dari calon pengantin wanita dengan dipayungi oleh suaminya.
Uang untuk membeli dawet terbuat dari kreweng (pecahan genting ) yang
dibentuk bulat. Upacara dodol dhawet dan cara membeli dengan kreweng ini
mempunyai makna berupa harapan agar kelak kalau sudah hidup bersama
dapat memperoleh rejeki yang berlimpah-limpah seperti cendol dalam dawet
dan tanpa kesukaran seperti dilambangkan dengan kreweng yang ada di
sekitar kita.
Menginjak rangkaian upacara
selanjutnya yaitu upacara midodareni. Berasal dari kata widadari, yang
artinya bidadari. Midadareni merupakan upacara yang mengandung harapan
untuk membuat suasana calon penganten seperti widadari. Artinya, kedua
calon penganten diharapkan seperti widadari-widadara, di belakang hari
bisa lestari, dan hidup rukun dan sejahtera.
Akad Nikah
Akad nikah adalah inti dari acara
perkawinan. Biasanya akad nikah dilakukan sebelum acara resepsi. Akad
nikah disaksikan oleh sesepuh/orang tua dari kedua calon penganten dan
orang yang dituakan. Pelaksanaan akad nikah dilakukan oleh petugas dari
catatan sipil atau petugas agama.
Panggih
Upacara panggih dimulai dengan
pertukaran kembar mayang, kalpataru dewadaru yang merupakan sarana dari
rangkaian panggih. Sesudah itu dilanjutkan dengan balangan suruh, ngidak
endhog, dan mijiki.
Balangan suruh
Upacara balangan suruh dilakukan oleh
kedua pengantin secara bergantian. Gantal yang dibawa untuk dilemparkan
ke pengantin putra oleh pengantin putri disebut gondhang kasih, sedang
gantal yang dipegang pengantin laki-laki disebut gondhang tutur. Makna
dari balangan suruh adalah berupa harapan semoga segala goda akan hilang
dan menjauh akibat dari dilemparkannya gantal tersebut. Gantal dibuat
dari daun sirih yang ditekuk membentuk bulatan (istilah Jawa: dilinting)
yang kemudian diikat dengan benang putih/lawe. Daun sirih merupakan
perlambang bahwa kedua penganten diharapkan bersatu dalam cipta, karsa,
dan karya.
Ngidak endhok
Upacara ngidak endhog diawali oleh
juru paes, yaitu orang yang bertugas untuk merias pengantin dan
mengenakan pakaian pengantin, dengan mengambil telur dari dalam bokor,
kemudian diusapkan di dahi pengantin pria yang kemudian pengantin pria
diminta untuk menginjak telur tersebut. Ngidak endhog mempunyai makna
secara seksual, bahwa kedua pengantin sudah pecah pamornya.
Wiji dadi
Upacara ini dilakukan setelah acara
ngidak endhok. Setelah acara ngidak endhog, pengantin wanita segera
membasuh kaki pengantin pria menggunakan air yang telah diberi bunga
setaman. Mencuci kaki ini melambangkan suatu harapan bahwa “benih” yang
akan diturunkan jauh dari mara bahaya dan menjadi keturunan yang baik.
Timbangan
Upacara timbangan biasanya dilakukan
sebelum kedua pengantin duduk di pelaminan. Upacara timbangan ini
dilakukan dengan jalan sebagai berikut: ayah pengantin putri duduk di
antara kedua pengantin. Pengantin laki-laki duduk di atas kaki kanan
ayah pengantin wanita, sedangkan pengantin wanita duduk di kaki sebelah
kiri. Kedua tangan ayah dirangkulkan di pundak kedua pengantin. Lalu
ayah mengatakan bahwa keduanya seimbang, sama berat dalam arti
konotatif. Makna upacara timbangan adalah berupa harapan bahwa antara
kedua pengantin dapat selalu saling seimbang dalam rasa, cipta, dan
karsa.
Kacar-kucur
Caranya pengantin pria menuangkan
raja kaya dari kantong kain, sedangkan pengantin wanitanya menerimanya
dengan kain sindur yang diletakkan di pangkuannya. Kantong kain berisi
dhuwit recehan, beras kuning, kacang kawak, dhele kawak, kara, dan bunga
telon (mawar, melati, kenanga atau kanthil). Makna dari kacar kucur
adalah menandakan bahwa pengantin pria akan bertanggungjawab mencari
nafkah untuk keluarganya. Raja kaya yang dituangkan tersebut tidak boleh
ada yang jatuh sedikitpun, maknanya agar pengantin wanita diharapkan
mempunyai sifat gemi, nastiti, surtini, dan hati-hati dalam mengatur
rejeki yang telah diberikan oleh suaminya.
Dulangan
Dulangan merupakan suatu upacara yang
dilakukan dengan cara kedua pengantin saling menyuapkan makanan dan
minuman. Makna dulangan adalah sebagai simbol seksual, saling memberi
dan menerima.
Sungkeman
Sungkeman adalah suatu upacara yang
dilakukan dengan cara kedua pengantin duduk jengkeng dengan memegang dan
mencium lutut kedua orangtua, baik orangtua pengantin putra maupun
orangtua pengantin putri. Makna upacara sungkeman adalah suatu simbol
perwujudan rasa hormat anak kepada kedua orangtua.
Kirab
Upacara kirab berupa arak-arakan yang
terdiri dari domas, cucuk lampah, dan keluarga dekat untu menjemput
atau mengiringi pengantin yang akan keluar dari tempat panggih ataupun
akan memasuki tempat panggih. Kirab merupakan suatu simbol penghormatan
kepada kedua pengantin yang dianggap sebagai raja sehari yang diharapkan
kelak dapat memimpin dan membina keluarga dengan baik.
Jenang Sumsuman
Upacara jenang sumsuman dilakukan
setelah semua acara perkawinan selesai. Dengan kata lain, jenang
sumsuman merupakan ungkapan syukur karena acara berjalan dengan baik dan
selamat, tidak ada kurang satu apapun, dan semua dalam keadaan sehat
walafiat. Biasanya jenang sumsuman diselenggarakan pada malam hari,
yaitu malam berikutnya setelah acara perkawinan.
Boyongan/Ngunduh Manten
Disebut dengan boyongan karena
pengantin putri dan pengantin putra diantar oleh keluarga pihak
pengantin putri ke keluarga pihak pengantin putra secara bersama-sama.
Ngunduh manten diadakan di rumah pengantin laki-laki. Biasanya acaranya
tidak selengkap pada acara yang diadakan di tempat pengantin wanita
meskipun bisa juga dilakukan lengkap seperti acara panggih biasanya. Hal
ini tergantung dari keinginan dari pihak keluarga pengantin laki-laki.
Biasanya, ngundhu h manten diselenggarakan sepasar setelah acara
perkawinan.
Makna atau Simbol yang Tersirat dalam Unsur Upacara Pernikahan
* Ubarampe tarub (pisang, padi, tebu,
kelapa gading, dan dedaunan): bermakna bahwa kedua mempelai diharapkan
nantinya setelah terjun dalam masyarakat dapat hidup sejahtera, selalu
dalam keadaan sejuk hatinya, selalu damai (simbol dedaunan), terhindar
dari segala rintangan, dapat mencapai derajat yang tinggi (simbol pisang
raja), mendapatkan rejeki yang berlimpah sehingga tidak kekurangan
sandang dan pangan (simbol padi), sudah mantap hatinya dalam mengarungi
bahtera rumah tangga (simbol tebu), tanpa mengalami percekcokan yang
berarti dalam membina rumah tangga dan selalu sehati (simbol kelapa
gading dalam satu tangkai), dan lain-lain.
* Air kembang : bermakna pensucian diri bagi mempelai sebelum bersatu.
* Pemotongan rambut : bermakna
inisiasi sebagai perbuatan ritual semacam upacara kurban menurut
konsepsi kepercayaan lama dalam bentuk mutilasi tubuh.
* Dodol dhawet : bermakna apabila
sudah berumah tangga mendapatkan rejeki yang berlimpah ruah dan
bermanfaat bagi kehidupan berumah tangga.
* Balangan suruh : bermakna semoga segala goda akan hilang dan menjauh akibat dari dilemparkannya gantal tersebut.
* Midak endhog : bermakna bahwa pamor
dan keperawanan sang putri akan segera hilang setelah direngkuh oleh
mempelai laki-laki. Setelah bersatu diharapkan segera mendapat momongan
seperti telur yang telah pecah.
* Timbangan : bermakna bahwa kedua
mempelai mempunyai hak dan kewajiban yang sama dan tidak ada bedanya di
hadapan orang tua maupun mertua.
* Kacar-kucur : bermakna bahwa
mempelai laki-laki berhak memberikan nafkah lahir batin kepada mempelai
putri dan sebaliknya pengantin putri dapat mengatur keuangan dan menjaga
keseimbangan rumah tangga.
* Dulangan : bermakna keserasian dan
keharmonisan yang akan diharapkan setelah berumah tangga, dapat saling
memberi dan menerima.
* Sungkeman : bermakna mohon doa
restu kepada orangtua dan mertua agar dalam membangun rumah tangga
mendapatkan keselamatan, dan terhindar dari bahaya.
Foto Bersama Dengan Narasumber







0 komentar:
Posting Komentar